Oleh
H. Supli Effendi Rahim
Dosen FP Unpal, PPS Unsri dan PPS Bina Husada

Assalamu alaikum wr wb,

Dengan tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, mari kita selalu memperbaiki dan menjaga akhlaq kita kepada pencipta kita, kepada sesama dan kepada lingkungan hidup kita. Ini semua merupakan manifestasi tingkat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt pemilik, pencipta, pemelihara alam semesta dan juga kita semua. Selawat dan salam mari kita selalu kirimkan, lafazkan dan ikrarkan setiap saat sebagai bukti kita berterima kasih kepada nabi kita, nabi akhir zaman, manusia besar sepanjang zaman yang banyak pengorbanannya kepada agama, kepada umat ini, sehingga kita dianugerahi nikmat yang terbesar di antara nikmat-nikmat lainnya yakni iman dan islam.

Bapak-bapak, saudara-saudaraku yang saya cintai,

Belakangan kita terkejut dan hampir tidak percaya bahwa banyak sekali cobaan, musibah dan ujian dalam kehidupan kita sebagai manusia, sebagai umat dan sebagai bangsa. Belum lepas dari ingatan kita dari banjir yang menggenangi rumah-rumah kita, jalan-jalan kita dan bahkan harta dan barang berharga milik kita, kita dikejutkan dengan hilangnya puluhan bahkan ratusan penduduk negeri ini melalui peristiwa kecelakaan jalan raya di banyak tempat di tanah air. Dari kecelakaan-kecelakaan lalu lintas itu terbanyak disebabkan kelengahan manusia yakni rem blong. Setelah banjir dan kecelakaan itu menyusul lagi pembunuhan sadis, dalam bentuk mutilasi. Istri memutilasi suami atau sebaliknya suami memutilasi istri.  

Akhlaq kepada Allah   

Setiap muslim meyakini, bahwa Allah adalah sumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya, pencipta jagad raya dengan segala isinya, Allah adalah pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga manakala hal seperti ini
mengakar dalam diri setiap muslim, maka akan terimplementasikan dalam realita
bahwa Allah lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak.

Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allah ini merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah, maka ini merupakan pintu gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain.

Diantara akhlak terhadap Allah SWT adalah:


1.   Taat terhadap perintah-perintah-Nya.
Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada Allah SWT,
adalah dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya. Sebab bagaimana mungkin ia
tidak mentaati-Nya, padahal Allah lah yang telah memberikan segala-galanya pada
dirinya. Allah berfirman (QS. 4 : 65):

 “Maka demi Rab-mu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemdian mrekea tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Karena taat kepada Allah merupakan konsekwensi keimanan seoran muslim kepada Allah SWT. Tanpa adanya ketaatan, maka ini merupakan salah satu indikasi tidak adanya
keimanan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga menguatkan makna ayat di
atas dengan bersabda:

 “Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga hawa nafsunya (keinginannya) mengikuti apa yang telah datang dariku (Al-Qur’an dan sunnah)." (HR. Abi Ashim al-syaibani).

2. Memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diembankan padanya.
Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT, adalah memiliki
rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya. Karena pada hakekatnya,
kehidupan inipun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh karenanya, seorang
mukmin senantiasa meyakini, apapun yang Allah berikan padanya, maka itu
merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah. Dalam
sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda:

Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda,
"Setiapkalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap apa yang
dipimpinnya. Seorang amir (presiden/ imam/ ketua) atas manusia, merupakan
pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami
merupakan pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang
dipimpinnya. Seorang wanita juga merupakan pemimpin atas rumah keluarganya dan
juga anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang
hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dan ia bertanggung jawab terhadap apa
yang dipimpinnya. Dan setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas
apa yang dipimpinnya." (HR. Muslim)

3. Ridho terhadap ketentuan Allah SWT.
Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT, adalah ridha terhadap segala ketentuan yang telah Allah berikan pada dirinya. Seperti ketika
ia dilahirkan baik oleh keluarga yang berada maupun oleh keluarga yang tidak
mampu, bentuk fisik yang Allah berikan padanya, atau hal-hal lainnya. Karena
pada hakekatnya, sikap seorang muslim senantiasa yakin (baca; tsiqah) terhadap
apapun yang Allah berikan pada dirinya. Baik yang berupa kebaikan, atau berupa
keburukan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:’

" sungguh mempesona perkara orang beriman. Karena segala
urusannya adalah dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia
bersyukur, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi
dirinya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal
tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya."  (HR. Bukhari)
Apalagi terkadang sebagai seorang manusia, pengetahuan atau pandangan kita terhadap
sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap baik
justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah memiliki
kebaikan bagi diri kita.

4. Senantiasa bertaubat kepada-Nya.
Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari sifat lalai dan
lupa. Karena hal ini memang merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah, etika
kita kepada Allah, manakala sedang terjerumus dalam ‘kelupaan’ sehingga berbuat
kemaksiatan kepada-Nya adalah dengan segera bertaubat kepada Allah SWT. Dalam
Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 3 : 135) :

"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya  diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah,  lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui."

5.  Obsesinya adalah keridhaan ilahi.
Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, akan memiliki obsesi dan orientasi dalam segala aktivitasnya, hanya kepada Allah SWT. Dia tidak beramal dan
beraktivitas untuk mencari keridhaan atau pujian atau apapun dari manusia.
Bahkan terkadang, untuk mencapai keridhaan Allah tersebut, ‘terpakasa’ harus
mendapatkan ‘ketidaksukaan’ dari para manusia lainnya. Dalam sebuah hadits
Rasulullah SAW pernah menggambarkan kepada kita:

"Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan ‘adanya’ kemurkaan manusia, maka Allah akan memberikan keridhaan manusia juga. Dan barang siapa yang mencari
keridhaan manusia dengan cara kemurkaan Allah, maka Allah akan mewakilkan
kebencian-Nya pada manusia." (HR. Tirmidzi, Al-Qadha’I dan ibnu Asakir).
Dan hal seperti ini sekaligus merupakan bukti keimanan yang terdapat dalam dirinya.
Karena orang yang tidak memiliki kesungguhan iman, otientasi yang dicarinya
tentulah hanya keridhaan manusia. Ia tidak akan perduli, apakah Allah menyukai
tindakannya atau tidak. Yang penting ia dipuji oleh oran lain.

6.  Merealisasikan ibadah kepada-Nya.

Etika atau akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT
adalah merealisasikan segala ibadah kepada Allah SWT. Baik ibadah yang bersifat
mahdhah, ataupun ibadah yang ghairu mahdhah. Karena pada
hakekatnya, seluruh aktiivitas sehari-hari adalah ibadah kepada Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an Allah berberfirman (QS. 51 : 56):

 “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Oleh karenanya, segala aktivitas, gerak gerik, kehidupan sosial dan lain sebagainya
merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim terhadap Allah. Sehingga ibadah
tidak hanya yang memiliki skup mahdhah saja, seperti shalat, puasa haji dan
sebagainya. Perealisasian ibadah yang paling penting untuk dilakukan pada saat
ini adalah beraktivitas dalam rangkaian tujuan untuk dapat menerakpak hukum
Allah di muka bumi ini. Sehingga Islam menjadi pedoman hidup yang direalisasikan
oleh masyarakat Islam pada khususnya dan juga oleh masyarakat dunia pada
umumnya.

7.   Banyak membaca al-Qur’an.
Etika dan akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah adalah
dengan memperbanyak membaca dan mentadaburi ayat-ayat, yang merupakan
firman-firman-Nya. Seseeorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia akan banyak
dan sering menyebutnya. Demikian juga dengan mukmin, yang mencintai Allah SWT,
tentulah ia akan selalu menyebut-nyebut Asma-Nya dan juga senantiasa akan
membaca firman-firman-Nya. Apalagi menakala kita mengetahui keutamaan membaca
Al-Qur’an yang dmikian besxarnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW
mengatakan kepada kita:

 "Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu dapat memberikan syafaat di hari kiamat kepada para pembacanya." (HR. Muslim)

Adapun bagi mereka-mereka yang belum bisa atau belum lancar dalam membacanya, maka hendaknya ia senantiasa mempelajarinya hingga dapat membacanya dengan baik.
Kalaupun seseorang harus terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an tersebut, maka
Allah pun akan memberikan pahala dua kali lipat bagi dirinya. Dalam hadits
lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Orang (mu’min) yang membaca Al-Qur’an dan ia lancar dalam membacanya, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi suci. Adapun orang mu’min yang membaca
Al-Qur’an, sedang ia terbata-bata dalam membacanya, lagi berat  (dalam mengucapkan huruf-hurufnya), ia akan mendapatkan pahala dua kali lipat." (HR. Bukhori Muslim)


Akhlaq yang berhubungan dengan sesama manusia dan sesama muslim

1.  Memenuhi janji ( al Isra : 34, an Nahl : 91, Al Maidah :1, As Shaff : 2-3)
2.  Menghubungkan tali persaudaraan (An Nisa : 36, )
Dari Anas ra. bahwa Rasulullah bersabda: “Siapa yang ingin dilapangkan untuknya rizkinya dan diakhirkan untuknya dalam ajalnya maka hendaklah menyambung tali silaturahimnya.” ( HR.Bukhari-Muslim)
Dari ‘Aisyah ra. dia berkata “Rahim itu digantung diatas ‘Arsy, dia berkata: “Siapa yang menyambungku maka Allah akan menyambungnya dan siapa yang memutusku maka Allah akan memutusnya.” (HR.Bukhari-Muslim)
3.  Waspada dan menjaga keselamatan bersama (Al Maidah : 2, Al Asr:1-3)
4.  Berlomba mencapai kebaikan (Al Baqoroh: 148, Ali Imron : 133)
5.  Bersikap adil (an Nahl : 90, Al Hujurut : 9)
6.  Tidak boleh mencela dan menghina (Al Hujurat : 11, Al Humazah : 1 )
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah berkata:”Cukuplah kejelekan seseorang jika menghina saudaranya sesama.” (HR.Muslim)
7.  Tidak bolaeh bermarahan (Al Qalam : 4, Ali ‘Imron : 134)
8.  Menjaga rahasia (Al Isra : 34)
9.  Mengutamakan orang lain (Al Hasyr : 9, Al Insan : 8)
10. Saling memberi hadiah.
“ Hendaklah kalian saling memberi hadiah pasti kalian saling mencintai.” (HR.Al Baihaqi).

Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur'an berkaitan dengan perlakuan sesama manusia. Petunjuk dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negative seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, tetapi juga sampai kepada menyakiti hati dengan cara menceritakan aib sesorang dibelakangnya, tidak perduli aib itu benar atau salah. Dalam hal ini Allah berfiman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 263 yakni: 

 قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعها اذى والله غني حليم (البقر ة : ٢٦٣)
Artinya: "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya), Allah Maha Kaya Lagi Maha Penyantun.(al-Baqarah :263)

Di sisi lain Al-Qur'an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Tidak masuk kerumah orang lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan salam, dan ucapan yang dikeluarkan adalah ucapan yang baik, hal ini dijelaskan dalam surat an-Nur ayat 24 yakni :

 يوم تشهد عليهم السنتهم وايديهم وارجلهم بما كانو يعملون (النور : ٢٤)

Artinya: "Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjaka (An-Nur : 24).  

Rincian yang dikemukakan Al-Quran berkaitan dengan perlakuan terhadap sesama manusia.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah [2]: 263).

Di sisi lain Al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar. Nabi Muhammad saw --misalnya-- dinyatakan sebagai manusia seperti manusia yang lain.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya (QS An-Nur [24]: 27).

Salam yang diucapkan itu wajib dijawab dengan salam yang serupa, bahkan juga dianjurkan agar dijawab dengan salam yang lebih baik (QS An-Nisa' [4]: 86).
Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia (QS Al-Baqarah [2]: 83).

Bahkan lebih tepat jika kita berbicara sesuai dengan keadaan dan kedudukan mitra bicara, serta harus berisi perkataan yang benar,

"Dan katakanlah perkataan yang benar" (QS Al-Ahzab [33]: 70).

Tidak wajar seseorang mengucilkan seseorang atau kelompok lain, tidak wajar pula berprasangka buruk tanpa alasan, atau menceritakan keburukan seseorang, dan menyapa atau memanggilnya dengan sebutan buruk (baca Al-Hujurat [49]: 11-12).

Yang melakukan kesalahan hendaknya dimaafkan. 
Pemaafan ini hendaknya disertai dengan kesadaran bahwa yang memaafkan berpotensi pula melakukan kesalahan. Karena itu, ketika Misthah --seorang yang selalu dibantu oleh Abu Bakar r.a.-- menyebarkan berita palsu tentang Aisyah, putrinya, Abu Bakar dan banyak orang lain bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah. Tetapi Al-Quran turun menyatakan:

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat(-nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah dijalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan, serta berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni kamu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS An-Nur [24]: 22).

Sebagian dari ciri orang bertakwa dijelaskan dalam Quran surat Ali Imran (3): 134, yaitu: Maksudnya mereka mampu menahan amarahnya, dan memaafkan, (bahkan) berbuat baik (terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahan terhadapnya), sesungguhnya Allah senang terhadap orang yang berbuat baik.

Dalam Al-Quran ditemukan anjuran, "Anda hendaknya mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan Anda sendiri."

"Mereka mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri, walaupun mereka amat membutuhkan"
(QS Al-Hasyr [59]: 9).

Jika ada orang yang digelari gentleman --yakni yang memiliki harga diri, berucap benar, dan bersikap lemah lembut (terutama kepada wanita)-- seorang Muslim yang mengikuti petunjuk-petunjuk akhlak Al-Quran tidak hanya pantas bergelar demikian, melainkan lebih dari itu, dan orang demikian dalam bahasa Al-Quran disebut al-muhsin.

Sebagai makhluk hidup, kita amat memerlukan tempat kehidupan di dunia ini yang baik; indah, bersih, aman dan nyaman. Itu sebabnya, kita amat memerlukan apa yang disebut dengan lingkungan hidup yang asri. Karena itu, menjadi keharusan kita bersama untuk berakhlak baik kepada lingkungan hidup agar lingkungan yang kita dambakan itu bisa terwujud.

AHLAQ  KEPADA LINGKUNGAN HIDUP

Ada beberapa hal yang harus kita pahami sebagai bentuk akhlak yang baik kepada lingkungan hidup agar kita bisa melaksanakannya.


1.    Keharusan Menjaga Lingkungan Hidup.

Menjaga kelestarian lingkungan hidup dan tidak melakukan kerusakan di dalamnya merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia. Karena itu, siapapun orangnya, melakukan kerusakan hidup dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik sehingga orang munafik sekalipun tidak mau dituduh telah melakukan kerusakan di muka bumi ini meskipun ia sebenarnya telah melakukan kerusakan, Allah Swt berfirman yang artinya:

وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوْا فِى اْلأَرْضِ قَالُوْا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ. أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ تَشْعُرُوْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari (QS 2: 11-12).

Oleh karena itu, orang-orang yang suka melakukan kerusakan di muka harus diwaspadai, Allah Swt berfirman:

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِى اْلأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْفَسَادِ

Dan apabila ia (munafik) berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan (QS 2: 205).

2.    Anjuran Menanam Pohon.

Agar lingkungan hidup yang kita diami tetap asri dan lestari, maka kaum muslimin sangat dianjurkan untuk menanam pohon, dengan adanya pohon, apalagi pohon yang besar, manusia akan memperoleh keuntungan seperti penghijauan, air hujan bisa menyerap lebih banyak ke dalam tanah sebagai cadangan air, udara tidak terlalu panas, buah yang dihasilkan serta kayu yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Anjuran menanam pohon ini terdapat dalam hadits Nabi Saw:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِى يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Jika hari kiamat datang dan pada tangan seseorang diantara kamu terdapat sebuah bibit tanaman, jika ia mampu menanamnya sebelum datangnya kiamat itu, maka hendaklah ia menanamnya (HR. Ahmad dan Bukhari)

Manakala pohon yang ditanam itu menghasilkan buah yang banyak, maka pahala untuk orang yang menanam pohon itu akan lebih besar lagi, Rasulullah Saw bersabda:

مَامِنْ رَجُلٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ قَدْرَ مَايَخْرُجُ مِنْ ثَمَرِ ذَالِكَ الْغَرْسِ

Tidak seorangpun menanam tanaman, kecuali ditulis baginya pahala sesuai dengan buah yang dihasilkan oleh tanaman itu (HR. Ahmad).

3.    Tidak Boleh Buang Air di Jalan, Tempat Bernaung dan dekat sumber air.

Lingkungan hidup yang bersih, indah dan nyaman merupakan dambaan bagi setiap orang, karena itu harus dicegah adanya usaha untuk mengotori lingkungan, karena itu Rasulullah Saw melarang siapapun untuk membuang air di jalan, tempat bernaung maupun dekat sumber air, Rasulullah Saw bersabda:

إِتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ .قَالُوْا وَمَااللاَّعِنَانِ؟ قَالَ: الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ

Takutlah kepada dua hal yang dilaknati. Mereka (sahabat) bertanya: Apakah dua hal yang dilaknati itu, ya Rasulullah?. Rasulullah Saw menjawab: Orang yang membuang hajat di jalan umum atau di bawah pohon tempat orang berteduh (HR. Muslim).

4.    Tidak Boleh Buang Air di Air Yang Tergenang.

Air merupakan kebutuhan yang sangat utama bagi masusia, dalam kehidupan sekarang, manusia tidak hanya mengandalkan air dari dalam tanah, tapi justeru sekarang ini banyak orang yang mengandalkan air sungai yang dibersihkan dan disucikan. Karena itu, manusia jangan sampai mengotori atau mencemari air sungai. Disamping itu, kebersihan lingkungan juga harus dijaga dan dipelihara dengan tidak “buang air “ pada air yang tergenang, karena hal itu akan mendatangkan penyakit dan bau yang tak sedap, Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ جَابِرٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ

Jabir ra berkata: Rasulullah Saw telah melarang kencing dalam air yang berhenti tidak mengalir (HR. Muslim).

5.    Memelihara Tanaman.

Ketika para sahabat telah menanam pohon kurma, mereka ingin agar pohon itu tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang banyak, tapi mereka agak bingung bagaimana harus mengurusnya, karenanya mereka bertanya kepada Nabi tentang hal itu, namun Nabi menjawab:Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu”.

Kisah di atas menunjukkan bahwa pohon yang sudah ditanam harus dipelihara dengan sebaik-baiknya, namun teknisnya diserahkan kepada masing-masing orang sesuai dengan perkembangannya.

Dalam kaitan dengan memelihara tanaman, penebangan pohonpun sedapat mungkin dihindari, kecuali bila hal itu memang sangat diperlukan, itupun bila tidak menganggu lingkungan, ini berarti harus sesuai dengan izin Allah Swt meskipun dalam keadaan perang, Allah Swt berfirman: 

مَاقَطَعْتُمْ مِنْ لِيْنَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوْهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُوْلِهَا فَبِإِذْنِ اللهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِيْنَ

Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik (QS 59:5).

6.    Boleh Memakan Buah.

Bagi seorang muslim, disadari bahwa Allah Swt telah menganugerahkan buah yang begitu banyak macamnya, karenanya boleh saja kita memakannya, namun jangan sampai berlebih-lebihan, setelah itu jangan sampai lupa memanjatkkan rasa syukur dengan menunaikan zakatnya pada saat panen, Allah berfirman yang artinya:

وَهُوَ الَّذِى أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوْشَاتٍ وَغَيْرَ مَّعْرُوْشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرُ مُتَشَابِهٍ. كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَءَاتُوْا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama rasanya. Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dari memetik hasilnya (zakat); dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS 6:141).

7.    Tidak Menggunakan Air Secara Boros.

Hal yang juga amat penting untuk mendapat perhatian kita adalah menggunakan air secara hemat, karenanya wudhu itu masing-masing dilakukan maksimal tiga kali, meskipun wudhu pada air yang banyak, bahkan wudhu di sungai sekalipun, karenanya Rasulullah berwudhu hanya menggunakan sedikit air, hal ini tergambar dalam hadits:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ
Adalah Rasulullah Saw berwudhu, dengan satu mud air (HR. Abu Daud dan Nasa’I).

جَاءَ أَعْرَابِيُّ إِلَى النَّبِىِّ ص.م فَسَأَلَهُ عَنِ الْوُضُوْءِ. فَأَرَاهُ ثَلاَثًا ثَلاَثًا. ثمَّ قالَ: هَذَا الْوُضُوْءُ. فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ أَوْ تَعَدَّى أَوْ ظَلَمَ

Datang seorang Badui kepada Nabi Saw, kemudian bertanya kepada beliau tentang wudhu, maka Nabi Saw memperlihatkan padanya tiga kali, tiga kali, lalu sabda: “Inilah wudhu, siapa yang lebih berarti telah berbuat keburukan dan kezaliman (HR. Nasa’I, Ahmad dan Ibnu Majah).

8.    Meminta Hujan Saat Kemarau.

Musim kemarau apalagi kemarau panjang bisa mengakibatkan kesengsaraan bagi manusia, karena bisa mengakibatkan kekurangan persediaan air yang pada akhirnya kegagalan dalam pertanian dan perkebunan. Bahkan musim kemarau bisa mengakibatkan bencana yang lebih besar lagi seperti mudahnya terjadi kebakaran, termasuk kebakaran hutan. Disamping itu, kesengsaraan juga dialami oleh binatang yang kesulitan bahan makanan karena daun dan rumput yang biasa dimakan menjadi kering serta kesengsaraan bagi lingkungan hidup itu sendiri. Oleh karena itu, sebagai upaya menumbuhkan alam lingkungan yang subur, indah dan nyaman, menjadi suatu keharusan bagi kaum muslimin untuk berdo’a meminta hujan dengan melaksanakan shalat istisqa.

Sumber:

Comments (0)