15:46 |
Category: |
0
comments
BERAPA nilai rupiah kerusakan lingkungan karena kegiatan pembangunan, berapa rupiah yang diperlukan untuk memperbaikinya, dan berapa nilai kemanfaatan ekonomi kalau lingkungan itu dijaga atau diperbaiki, merupakan pertanyaan yang perlu dijawab secara kuantitatif.
Nilai ekonomi lingkungan yang dianggap tak terukur, intangible, dan sering kali bahkan dianggap tidak layak dipertanyakan karena memiliki nilai yang sulit dihitung secara nyata tersebut dapat didekati hingga menjadi tangible, terukur, meskipun cara pendekatannya bersifat relatif dan malahan tak jarang dianggap mengada-ada.
Sebuah contoh yang sering kita dengar, kerusakan lahan karena proses erosi didekati dengan menghitung berapa rupiah yang diperlukan untuk mengangkut kembali lapisan top soil yang hanyut ke sungai dan waduk ke struktur tanah di lokasi semula. Di Korea, Kim dan Dixon (1982) menyajikan angka kerusakan tanah akibat erosi tersebut sebesar 111.964 won per hektar atau senilai 162,3 dollar AS per hektar. Sedangkan di Indonesia, angka riset tentang hal ini ataupun kasus-kasus lingkungan yang lain belum diperoleh.
Nilai pokok lingkungan paling sering dihitung dari kejadian bencana tata air, kerusakan lahan, dan polusi. Nilai lainnya yang tidak kalah penting, namun sering dilupakan adalah nilai konservasi alam hayati dan plasma nutfah maupun nilai keberadaan sumber daya terhadap aktivitas eksogen baik makro maupun yang bersifat mikro. Hutan dan pepohonan berperan paling besar dalam perlindungan ekosistem lingkungan ini, sampai kepada nilai keteduhan dan estetikanya. Bahkan, sumber daya hutan mampu membentuk pola budaya dan sosial setempat.
Bagaimana menguantifikasikan nilainya, memang bukan perkara yang mudah. Tapi, paling tidak dengan itikad memberikan gambaran yang paling dapat dipertanggungjawabkan, kuantifikasi nilai ekonomi (dan finansial) lingkungan ini dapat dilakukan. Tentunya dengan simplifikasi sesederhana mungkin.
Analisis proyek dengan mempertimbangkan nilai ekonomi lingkungan dilakukan oleh Maynard M Hutscmidt bersama empat rekannya melalui metode benefit cost analysis (BCA), dikembangkan tahun 1936 di Amerika Serikat, berkaitan dengan pembangunan proyek pengairan di sana. Metode ini secara sederhana dikembangkan untuk menghitung besarnya peningkatan keuntungan proyek apabila dikeluarkan biaya konservasi lingkungannya, merupakan contoh awal usaha menguantifikasi nilai lingkungan yang mulai diperhatikan. Perdebatan cara analisa ini berlangsung sampai ke Congress selama tahun 1950-an yang mengundang perhatian para ahli ekonomi.
Di tahun 1958, Eckstein, Krutilla dan Eckstein, serta McKean memublikasikan tiga buku tentang benefit cost analysis tersebut. Hammond merupakan orang pertama yang di tahun 1958 memodifikasi metode ini untuk kegiatan pengendalian polusi. Selanjutnya tercatat nama Maass dan kawan kawan (1962), Barnet dan Morse (1963), Dorfman (1965), Herfindahl dan Kneese (1974), serta Mishan (1976) yang juga mengembangkan metode analisis di atas. Metode ini pun berkembang ke Inggris, Amerika Utara, dan Eropa Barat. Dan, kini Bank Dunia pun menggunakannya untuk menganalisa usulan investasi proyek-proyek, termasuk di negara-negara sedang berkembang.
Konsep utama analisis ini secara sederhana menghitung perbandingan keuntungan dan biaya suatu proyek, ditambah upaya konservasi, sebagaimana layaknya menggunakan metode investment criteria di bidang ekonomi. Tujuannya untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi dengan menilai efek perubahan kualitas lingkungan dan mengantisipasi perlakuan perbaikan maupun pengendalian kerusakannya. Intinya, kerusakan lingkungan merupakan eksternalitas yang harus turut diperhitungkan dalam biaya proyek.
CARA sederhana lainnya yang dapat dikembangkan untuk menilai kelayakan suatu proyek adalah metode benefit loss analysis (BLA), yakni dengan memperbandingkan net present value (NPV) dari berkembangnya nilai keuntungan kegiatan dengan nilai kerugian akibat rusaknya lingkungan dalam berbagai aspek yang sebelumnya tidak pernah terjadi (Handadhari, 1994).
Eksploitasi hutan, misalnya, akan menghasilkan banyak keuntungan rupiah. Namun, juga akan merubah struktur ekosistem yang menurunkan kualitas lingkungan atau bahkan merusaknya dalam jangka waktu yang cepat, bahkan sering kali cenderung permanen. Di tanah pertanian, kegiatan budidaya yang tidak disertai konservasi telah menyebabkan erosi, menurunkan produksi pertanian dan menambah ongkos pemupukan yang tidak jarang menyebabkan polusi pestisida yang merugikan kehidupan biota air sungai dan nelayan ikan, serta kesehatan masyarakat.
Di kota besar, pembangunan kota dan permukiman telah menyebabkan naiknya suhu udara sampai 10 derajat Celsius, menurunkan kemampuan tanah menyerap air, polusi udara, tercemarnya sungai, dan berbagai kerusakan nilai lingkungan. Di sektor pertambangan, tidak dapat ditutupi timbulnya kerusakan lingkungan langsung yang amat sulit direklamasi. Namun, hal yang jelas merugikan seperti ini tidak pernah diungkapkan dalam rupiah untuk menilai pertumbuhan nilai ekonomi pembangunan yang sebenarnya.
Sebuah contoh polemik kasus lingkungan yang sempat populer adalah pembangunan padang golf dan agrowisata di Puncak sepanjang medio 1993. Pembangunan lahan 700 hektar yang menjanjikan pajak Rp 4 miliar setahun tersebut akhirnya harus diperbandingkan dengan nilai kerusakan lingkungan berupa menurunnya hasil air yang menurut perhitungan teknis mencapai sekitar 5 juta meter kubik setahun, erosi tanah 211 ton per hektar per tahun, limpasan run off 18 juta meter kubik setahun yang merusak dan memperbesar bahaya banjir di Jakarta akan mengakibatkan kerugian materiil yang bernilai rupiah sangat besar.
Dari hasil air tanah yang hilang saja, apabila dikomersialkan sebagai air mineral dengan nilai serendah Rp 100 per liter, waktu itu, bisa bernilai Rp 500 miliar per tahun. Maka, proyek tersebut justru akan merupakan kerugian nilai lingkungan yang sangat besar, jauh melampaui nilai pajak yang dihasilkan proyek tersebut (Kompas, 24 Mei 1993).
Contoh kasus environmental benefit loss analysis lainnya adalah pembangunan Jalan Tol Jagorawi yang konon sangat menguntungkan. Padahal, kita semua sadar bahwa jalan tersebut yang telah memacu kerusakan lingkungan Bogor-Puncak-Cianjur, bahkan areal pertanian dan peresapan air sepanjang jalan tol itu sendiri. Dan, kini, rencana pembangunan pantura Jakarta yang berjudul "reklamasi pantai" sedang diperdebatkan untung ruginya.
Secara nyata, keuntungan rupiahnya jelas amat menggiurkan (Kompas, 27 September 2002), tetapi kerugian materiil maupun nonmaterial yang akan ditanggung masyarakat pinggiran masih terus-menerus menjadi perdebatan.
Di Indonesia, masalah kuantifikasi nilai ekonomi lingkungan memang belum menarik untuk dibahas. Namun, beberapa ahli ekonomi dan kehutanan telah berusaha mengintroduksinya. Di antaranya, Iwan Jaya Azis (Universitas Indonesia, 1990-an) menyajikan gagasan menginternalisasi faktor-faktor eksternal melalui modifikasi model Robinson dalam bentuk model computable general equilibrium (CGE) yang diharapkan secara spesifik mampu menginternalisasi unsur-unsur pencemaran lingkungan.
Perhitungan kuantitatif nilai konservasi lingkungan hutan nasional telah pula dicoba oleh sekelompok ahli yang konon mengungkapkan bahwa nilai konservasi hutan alami terhadap perlindungan tanah dan penyerapan air saja sekitar 4 miliar dollar AS setahun.
Young Cheul Kim dan Achmad Sumitro (UGM, 2002) mengungkapkan, nilai ekonomi total hutan sebesar lebih dari Rp 10 juta/hektar/tahun, dengan nilai terbesar sebagai gudang penyimpan karbon (89%). Sedangkan IPB Bogor sebelumnya meneliti nilai hasil hutan kayu yang hanya kurang dari 5% dari nilai intrinsik sumber daya hutan, yang menyiratkan besarnya kerugian kegiatan eksploitasi apabila tanpa konservasi hutan.
Akhirnya, meskipun sifatnya masih amat nisbi, nilai ekonomi lingkungan sangat penting untuk dikuantifikasikan. Berapa nilai keuntungan suatu kegiatan pembangunan dibandingkan dengan nilai kerugiannya akibat rusaknya lingkungan dan kehidupan sosial bukanlah hal yang sulit dan mustahil dilakukan. Paling tidak, gambarannya diperlukan untuk memberikan masukan obyektif bagi para pengambil keputusan. Hanya para pihak yang terlibat tentu enggan mengungkapkannya. Apalagi, bila akan mempengaruhi "periuk nasi" mereka. Tetapi, sampai kapan?
Transtoto Handadhari, Pengamat Ekonomi Kehutanan, alumnus UGM
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0306/08/Fokus/357828.htm
23:32 |
Category: |
0
comments
Kesehatan jasmani dan rohani setiap penduduk merupakan bagian yang harus diperjuangan secara proaktif dan reaktif. Kenapa? Karena kesehatan tergolong penting sebagai has asasi manusia - tua, muda dan anak-anak, di kota atau di desa, orang kaya atau orang miskin, pejabat atau rakyat, di laut atau di gunung. Pendek kata kesehatan mestinya diperjuangkan secara sungguh-sungguh. Untuk memperjuangkan kesehatan sebagai hak asasi manusia yang hakiki, negara telah menjadikan kesehatan sebagai prioritas penganggaran negara dan daerah dengan memberi porsi anggaran sebanyak 20%.
Banyak sudah aplikasi perangkat lunak yang diciptakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan penggunanya. Mulai dari meningkatkan produktifitas, komunikasi, pergaulan, keuangan sampai kesehatan. Untuk poin yang terakhir saya sebutkan, nampaknya masih jarang dikembangkan di Indonesia. Entah dirasa kurang menguntungkan atau mungkin memang proses adapatasinya yang sulit. Padahal jika dilihat lebih jauh, aplikasi kesehatan dapat meningkatkan kinerja, efisiensi serta mengedukasi banyak orang tentang informasi kesehatan.
Sebagai contoh kecil, adalah masalah rekam medis dari pasien di rumah sakit. Coba anda bayangkan jika rekam medis ini bisa dilihat oleh dokter, pasien, dan juga staff rumah sakit secara jarak jauh atau bahkan mobile. Jadi di manapun seorang dokter berada, ia dapat mengambil tindakan tanpa harus melihat rekam medis yang ada di komputer rumah sakit terlebih dahulu. Para dokter juga dapat dengan cepat menganalisa keadaan pasien dari output grafik yang bisa diberikan oleh aplikasi tersebut.
Lalu, pasien juga bisa melaporkan perkembangan berat badan, tensi darah, kadar gula, atau hal-hal lain yang dapat dilakukan di rumah melalui sebuah website ataupun aplikasi mobile. Dan kemudian para dokter dapat memantau perkembangan si pasien tersebut. Pasien juga bisa melakukan konsultasi secara online dengan para dokter, tentunya dengan menggunakan kredit poin yang dapat dibayarkan secara online. Menyenangkan sekali jika memang kita memiliki aplikasi seperti ini yang terintegrasi dan bisa diimplementasikan secara nyata di dunia kesehatan.
Di luar Indonesia sendiri sudah mulai dikembangkan aplikasi-aplikasi kesehatan. Mulai dari aplikasi desktop yang digunakan rumah sakit, sampai yang berbentuk web, bahkan ada yang bertemakan social networking. Tidak ketinggalan juga implementasinya di perangkat mobile, semacam smartphone hingga tablet. Kebanyakan orang menyebut aplikasi seperti ini dengan e-health.
Saya sendiri masih belum berhasil mendapatkan contoh-contoh dari e-health yang ada di Indonesia. Tetapi kebetulan saya berhasil mendapatkan beberapa website serta aplikasi mobile yang bertemakan e-health di luar Indonesia. Walaupun saya harus menunggu invitasi dari versi closed beta-nya, tetapi dengan melihat halaman “about” mereka saya berasumsi, aplikasi seperti ini memang layak disebut e-health.
Nah berikut adalah beberapa aplikasi yang saya temukan, baik berupa web site maupun aplikasi mobile:
Website: withings.com

MotherKnows menargetkan apliaksi web mereka untuk para orang tua. Disini para orang tua dapat membuat catatan medis dari putra putri mereka. Selain itu para orang tua juga bisa menambahkan jadwal imunisasi, golongan darah, riwayat alergi, riwayat pengobatan serta tindakan kesehatan yang pernah dilakukan serta melihat statistik perkembangan berat dan tinggi anak secara cepat. Tidak ketinggalan juga para orang tua dapat mencatat, dokter mana saja yang telah dikunjungi dan lain sebagainya. Selain dapat diakses melalui web site, MotherKnows juga direncanakan akan memiliki aplikasi mobile.
Website: motherknows.com

Merupakan jejaring sosial dimana para anggotanya melakukan sharing mengenai kondisi kesehatan mereka. Menjadi menarik karena dengan melakukan sharing kondisi kesehatan mereka, maka jika terjadi wabah seperti demam berdarah, diare, atau malaria, anggota yang lain dapat mengetahui hal tersebut melalui fitur pemetaan. Fitur pemetaan ini menampilkan penyakit yang banyak terjadi di suatu daerah berdasarkan dari sharing status tadi. Dari data pemetaan penyakit tersebut, para petugas kesehatan setempat bisa melakukan tindakan pencegahan dengan lebih cepat, tanpa menunggu jatuhnya korban. Di lain pihak, anggota lainnya dapat memeberi saran dan berbagi cara penanggulangannya.
Website: sickweather.com
~
Nah, itulah konsep e-health yang berhasil saya temukan, dan membuka pikiran saya terbuka bahwa kita juga bisa membuat hal-hal semacam itu. Memang mungkin belum bisa mencakup semua kalangan, tetapi jika bisa berhasil maka akan sangat bermanfaat bagi dunia kesehatan di Indonesia. Usaha ini saya rasa haruslah dimulai dari para pengembang aplikasi, dimana e-health ini merupakan pasar yang masih baru dan mungkin agak sulit mencari keuntungan di sini. Hanya saja manfaat yang bisa diberikan ke masyarakat lebih besar jika hanya dibandingkan dengan ukuran keuntungan semata. Jadi bagaimana, ada yang berinisiatif membuat e-health?
bahan bacaan:
www.teknojournal.com
Banyak sudah aplikasi perangkat lunak yang diciptakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan penggunanya. Mulai dari meningkatkan produktifitas, komunikasi, pergaulan, keuangan sampai kesehatan. Untuk poin yang terakhir saya sebutkan, nampaknya masih jarang dikembangkan di Indonesia. Entah dirasa kurang menguntungkan atau mungkin memang proses adapatasinya yang sulit. Padahal jika dilihat lebih jauh, aplikasi kesehatan dapat meningkatkan kinerja, efisiensi serta mengedukasi banyak orang tentang informasi kesehatan.
Sebagai contoh kecil, adalah masalah rekam medis dari pasien di rumah sakit. Coba anda bayangkan jika rekam medis ini bisa dilihat oleh dokter, pasien, dan juga staff rumah sakit secara jarak jauh atau bahkan mobile. Jadi di manapun seorang dokter berada, ia dapat mengambil tindakan tanpa harus melihat rekam medis yang ada di komputer rumah sakit terlebih dahulu. Para dokter juga dapat dengan cepat menganalisa keadaan pasien dari output grafik yang bisa diberikan oleh aplikasi tersebut.
Lalu, pasien juga bisa melaporkan perkembangan berat badan, tensi darah, kadar gula, atau hal-hal lain yang dapat dilakukan di rumah melalui sebuah website ataupun aplikasi mobile. Dan kemudian para dokter dapat memantau perkembangan si pasien tersebut. Pasien juga bisa melakukan konsultasi secara online dengan para dokter, tentunya dengan menggunakan kredit poin yang dapat dibayarkan secara online. Menyenangkan sekali jika memang kita memiliki aplikasi seperti ini yang terintegrasi dan bisa diimplementasikan secara nyata di dunia kesehatan.
Di luar Indonesia sendiri sudah mulai dikembangkan aplikasi-aplikasi kesehatan. Mulai dari aplikasi desktop yang digunakan rumah sakit, sampai yang berbentuk web, bahkan ada yang bertemakan social networking. Tidak ketinggalan juga implementasinya di perangkat mobile, semacam smartphone hingga tablet. Kebanyakan orang menyebut aplikasi seperti ini dengan e-health.
Saya sendiri masih belum berhasil mendapatkan contoh-contoh dari e-health yang ada di Indonesia. Tetapi kebetulan saya berhasil mendapatkan beberapa website serta aplikasi mobile yang bertemakan e-health di luar Indonesia. Walaupun saya harus menunggu invitasi dari versi closed beta-nya, tetapi dengan melihat halaman “about” mereka saya berasumsi, aplikasi seperti ini memang layak disebut e-health.
Nah berikut adalah beberapa aplikasi yang saya temukan, baik berupa web site maupun aplikasi mobile:
Withings
Sebuah situs yang menawarkan e-health yang terintegrasi dengan smartphone anda beserta peralatan eksternal lainnya. Di sini pengguna dapat mencatat perkembangan berat badan, tekanan darah dan juga kondisi bayi anda. Aplikasi ini cukup membantu kesadaran si penggunanya untuk memiliki rekam medis pribadi. Nantinya hasil dari data data tersebut dapat dikirimkan melalui email langsung ke dokter yang diinginkan sebagai bahan konsultasi maupun medical check up. Dengan begitu pengguna diberdayakan dan di edukasi untuk selalu memperhatikan kesehatannya dengan bantuan teknologi.Website: withings.com
MotherKnows
MotherKnows menargetkan apliaksi web mereka untuk para orang tua. Disini para orang tua dapat membuat catatan medis dari putra putri mereka. Selain itu para orang tua juga bisa menambahkan jadwal imunisasi, golongan darah, riwayat alergi, riwayat pengobatan serta tindakan kesehatan yang pernah dilakukan serta melihat statistik perkembangan berat dan tinggi anak secara cepat. Tidak ketinggalan juga para orang tua dapat mencatat, dokter mana saja yang telah dikunjungi dan lain sebagainya. Selain dapat diakses melalui web site, MotherKnows juga direncanakan akan memiliki aplikasi mobile.
Website: motherknows.com
Sickweather
Merupakan jejaring sosial dimana para anggotanya melakukan sharing mengenai kondisi kesehatan mereka. Menjadi menarik karena dengan melakukan sharing kondisi kesehatan mereka, maka jika terjadi wabah seperti demam berdarah, diare, atau malaria, anggota yang lain dapat mengetahui hal tersebut melalui fitur pemetaan. Fitur pemetaan ini menampilkan penyakit yang banyak terjadi di suatu daerah berdasarkan dari sharing status tadi. Dari data pemetaan penyakit tersebut, para petugas kesehatan setempat bisa melakukan tindakan pencegahan dengan lebih cepat, tanpa menunggu jatuhnya korban. Di lain pihak, anggota lainnya dapat memeberi saran dan berbagi cara penanggulangannya.
Website: sickweather.com
~
Nah, itulah konsep e-health yang berhasil saya temukan, dan membuka pikiran saya terbuka bahwa kita juga bisa membuat hal-hal semacam itu. Memang mungkin belum bisa mencakup semua kalangan, tetapi jika bisa berhasil maka akan sangat bermanfaat bagi dunia kesehatan di Indonesia. Usaha ini saya rasa haruslah dimulai dari para pengembang aplikasi, dimana e-health ini merupakan pasar yang masih baru dan mungkin agak sulit mencari keuntungan di sini. Hanya saja manfaat yang bisa diberikan ke masyarakat lebih besar jika hanya dibandingkan dengan ukuran keuntungan semata. Jadi bagaimana, ada yang berinisiatif membuat e-health?
bahan bacaan:
www.teknojournal.com
20:56 |
Category: |
1 comments
Pengantar
Ada tampaknya dalam jumlah banyak kemungkinan aplikasi teknologi informasi (TI) untuk manajemen pelayanan kesehatan. Antusiasme dalam memperkenalkan solusi dalam perawatan kesehatan TI kadang-kadang melewati pengawasan tradisional dan kontrol kualitas. Tanpa penilaian dan sistem pemikiran yang tepat (bagaimana implementasi, bagian dari sistem, kadang-kadang menghasilkan efek negatif di bagian lain dari sistem) seseorang tidak harus memperkenalkan solusi TI baru.
Bidang e-health ini seperti dikatakan, sangat luas, mencakup topik-topik seperti telemedicine, catatan elektronik, perekrutan, pergi tanpa kertas, pengadaan, skor kesehatan kartu, audit, sistem informasi dll
Detmer
The Popper berikut kontrol antarmuka pengguna mungkin tidak dapat diakses. Tab untuk tombol berikutnya untuk kembali kontrol ke versi diakses.Hancurkan antarmuka pengguna control mendefinisikan tiga bidang informatika kesehatan:
• informatika Konsumen• Medis dan klinis informatika, dan• Bio informatika.Kategori ini didasarkan pada jenis dominan pengguna atau digunakan.Dalam tulisan ini, fokus akan pada dua jenis pertama disebutkan.Pergi ke:Informatika KonsumenSeringkali kategori ini - Informatika Konsumen - adalah yang sering disebut sebagai 'e-health' dan berfokus komunikasi kepada pasien dan masyarakat tentang topik kesehatan.
Konsumen-to-consumer (C-to-C) aplikasi yang berarti berpotensi kuat memberdayakan individu dan masyarakat. Ada 25.000 - 30.000 website berorientasi kesehatan dan mereka adalah yang paling dikunjungi. Situs-situs tersebut dan akan sumber utama informasi dan mis-informasi. Ada kebutuhan mendesak bagi semua pihak, termasuk para politisi / anggota parlemen, profesional kesehatan dan industri untuk menempatkan standar yang memadai dan kontrol kualitas untuk situs ini.
Sudah aplikasi C-to-C telah memberi kontribusi pada penciptaan "virtual" dan kadang-kadang kuat masyarakat, kadang-kadang dengan hasil dipertanyakan, seperti kekerasan sehubungan dengan Organisasi Perdagangan Dunia Summits. Tapi, kadang-kadang, lebih sesuai dengan semangat demokrasi baik-informasi, seperti jaringan antara pemilik tanah menderita banjir di Inggris. Kedua contoh dikutip sedang fokus pada pemerintah (s) dan pihak terkait lainnya.Pergi ke:Medis / klinis informatika.
Kategori ini berhubungan langsung dengan kesehatan struktur, proses dan hasil. Sebuah aplikasi utama adalah catatan medis berbasis komputer, sub-kategori yang catatan pribadi berbasis komputer yang akan memfasilitasi akses ke terapi biaya rendah, misalnya, dengan daerah-daerah tertentu dari kesehatan mental, seperti depresi.
Lain sub-kategori adalah catatan pasien berbasis komputer yang akan memudahkan pengambilan keputusan klinis. Catatan ini kemudian dapat dikaitkan dengan sistem berorientasi ilmu yang dapat berkontribusi untuk kontrol kualitas dari proses klinis. Pendukung keputusan tersebut telah terbukti memiliki hasil yang lebih baik.
Catatan kesehatan berbasis populasi komputer atau masyarakat biasanya anonim pasien dan / atau catatan pribadi. Sistem ini sangat berharga dalam kesehatan masyarakat di mana seseorang mencoba untuk melacak berbagai jenis bahaya kesehatan, terkait baik dengan, agen lingkungan atau sosial medis.Apa komentar umum, oleh karena itu, dapat dibuat mengenai catatan berbasis komputer? Tentu saja ada kekhawatiran etis yang penting dalam kaitannya dengan komposisi catatan dan akses yang sama. Juga, menghubungkan sistem pencatatan yang berbeda satu sama lain kadang-kadang menimbulkan kritik, khususnya dalam kasus-kasus yang mungkin melibatkan catatan pribadi / pasien. Sekali lagi, ada perlu untuk mengamankan standar dan kualitas dan langkah yang tepat, nasional dan internasional, yang akan diambil dalam mencari solusi.
Juga, kurangnya bimbingan dari pemerintah pusat, dalam banyak kasus menyebabkan mish-mash komputer berbasis sistem catatan pasien non-kompatibel. Keadaan seperti itu telah menyebabkan masalah timbul dalam pengolahan kelancaran pasien antara unit-unit pelayanan kesehatan, bahkan dalam otoritas kesehatan yang sama (atau setara). Terlepas dari banyak aspek positif devolusi / desentralisasi, ada, seperti yang ditunjukkan di atas-menyebutkan beberapa contoh, kebutuhan untuk koordinasi pusat.
Pengamatan ini juga mungkin memiliki beberapa bantalan internasional dengan volume tinggi orang bepergian melintasi asrama nasional dan kadang-kadang membutuhkan perawatan kesehatan darurat di luar negara masing-masing. Dalam kasus ini, transfer cepat dan efisien, elektronik, catatan medis mungkin penting untuk mencapai pengiriman perawatan akut berkualitas baik.Pergi ke:TelemedicineAkhirnya, telemedicine memberikan kategori dengan sendirinya. Telemedicine, berarti kesehatan yang disampaikan melalui sarana elektronik, telah di jalan selama lebih dari satu abad - jika perawatan yang disediakan oleh telegraf dan telepon dianggap. Namun, menjelang akhir abad lalu, ini muncul sebagai sistem pengiriman dengan potensi besar karena revolusi teknologi informasi, yang membuat dua arah, transmisi audio visual mungkin biaya yang wajar.
The Popper berikut kontrol antarmuka pengguna mungkin tidak dapat diakses. Tab untuk tombol berikutnya untuk kembali kontrol ke versi diakses.Hancurkan antarmuka pengguna control.
Pandangan yang diungkapkan oleh Hjelm, arahkan ke kesulitan (yang tidak dapat cukup disajikan di sini) telemedicine yang dihadapi, mengakibatkan banyak kekurangan. Ini memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum dapat secara efektif diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan kesehatan. Salah satu kesulitan penting adalah bahwa banyak aplikasi telemedicine belum dikembangkan, dievaluasi dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah sakit, sebelum penerapan sistem jarak yang lebih jauh.P
Kesimpulan
Seperti disebutkan, teknologi informasi dan e-health memiliki potensi besar. Penelitian dan pengembangan penelitian, bagaimanapun, diperlukan dalam menilai implikasi sempit dan lebih luas dari aplikasi TI. Ini tidak bisa dibiarkan penggemar IT saja, baik kepada para politisi baik-informasi yang kurang atau profesional kesehatan. Aplikasi harus, dalam pikiran saya, akan dibangun secara bertahap dengan dimulai dari proyek percontohan skala yang lebih kecil. Pada tahap selanjutnya dan setelah penilaian hati-hati, implementasi skala yang lebih besar mungkin tepat. Nasional dan internasional, ada kebutuhan untuk aksi bersama dalam mengembangkan standar (untuk mencapai kompatibilitas) dan kerangka etika.
Dari perspektif Rumah Sakit International Federation, kami telah mencatat, dengan kejutan dan kepuasan, bahwa website kita sendiri, http://www.hospitalmanagement.net, telah mencapai audiens yang lebih besar dari yang diharapkan. Dalam waktu kurang dari setahun setelah awal, sekitar 550, 000 hits per bulan (November 2001) dan beberapa 1000 rapat kerja sehari, telah direkam. Kami mengakui, oleh karena itu, website ini sebagai alat yang ampuh dalam mencapai anggota, calon anggota, industri dan masyarakat. Menjalankan website kami tergantung pada iklan. Mengingat bahwa banyak yang mengklaim ada pertumbuhan dalam kesehatan yang berhubungan dengan e-commerce serta peningkatan penghematan biaya dalam penggunaan fasilitas e-commerce, kami berharap dan percaya diri dalam pengembangan masa depan website kami.
Ada tampaknya dalam jumlah banyak kemungkinan aplikasi teknologi informasi (TI) untuk manajemen pelayanan kesehatan. Antusiasme dalam memperkenalkan solusi dalam perawatan kesehatan TI kadang-kadang melewati pengawasan tradisional dan kontrol kualitas. Tanpa penilaian dan sistem pemikiran yang tepat (bagaimana implementasi, bagian dari sistem, kadang-kadang menghasilkan efek negatif di bagian lain dari sistem) seseorang tidak harus memperkenalkan solusi TI baru.
Bidang e-health ini seperti dikatakan, sangat luas, mencakup topik-topik seperti telemedicine, catatan elektronik, perekrutan, pergi tanpa kertas, pengadaan, skor kesehatan kartu, audit, sistem informasi dll
Detmer
The Popper berikut kontrol antarmuka pengguna mungkin tidak dapat diakses. Tab untuk tombol berikutnya untuk kembali kontrol ke versi diakses.Hancurkan antarmuka pengguna control mendefinisikan tiga bidang informatika kesehatan:
• informatika Konsumen• Medis dan klinis informatika, dan• Bio informatika.Kategori ini didasarkan pada jenis dominan pengguna atau digunakan.Dalam tulisan ini, fokus akan pada dua jenis pertama disebutkan.Pergi ke:Informatika KonsumenSeringkali kategori ini - Informatika Konsumen - adalah yang sering disebut sebagai 'e-health' dan berfokus komunikasi kepada pasien dan masyarakat tentang topik kesehatan.
Konsumen-to-consumer (C-to-C) aplikasi yang berarti berpotensi kuat memberdayakan individu dan masyarakat. Ada 25.000 - 30.000 website berorientasi kesehatan dan mereka adalah yang paling dikunjungi. Situs-situs tersebut dan akan sumber utama informasi dan mis-informasi. Ada kebutuhan mendesak bagi semua pihak, termasuk para politisi / anggota parlemen, profesional kesehatan dan industri untuk menempatkan standar yang memadai dan kontrol kualitas untuk situs ini.
Sudah aplikasi C-to-C telah memberi kontribusi pada penciptaan "virtual" dan kadang-kadang kuat masyarakat, kadang-kadang dengan hasil dipertanyakan, seperti kekerasan sehubungan dengan Organisasi Perdagangan Dunia Summits. Tapi, kadang-kadang, lebih sesuai dengan semangat demokrasi baik-informasi, seperti jaringan antara pemilik tanah menderita banjir di Inggris. Kedua contoh dikutip sedang fokus pada pemerintah (s) dan pihak terkait lainnya.Pergi ke:Medis / klinis informatika.
Kategori ini berhubungan langsung dengan kesehatan struktur, proses dan hasil. Sebuah aplikasi utama adalah catatan medis berbasis komputer, sub-kategori yang catatan pribadi berbasis komputer yang akan memfasilitasi akses ke terapi biaya rendah, misalnya, dengan daerah-daerah tertentu dari kesehatan mental, seperti depresi.
Lain sub-kategori adalah catatan pasien berbasis komputer yang akan memudahkan pengambilan keputusan klinis. Catatan ini kemudian dapat dikaitkan dengan sistem berorientasi ilmu yang dapat berkontribusi untuk kontrol kualitas dari proses klinis. Pendukung keputusan tersebut telah terbukti memiliki hasil yang lebih baik.
Catatan kesehatan berbasis populasi komputer atau masyarakat biasanya anonim pasien dan / atau catatan pribadi. Sistem ini sangat berharga dalam kesehatan masyarakat di mana seseorang mencoba untuk melacak berbagai jenis bahaya kesehatan, terkait baik dengan, agen lingkungan atau sosial medis.Apa komentar umum, oleh karena itu, dapat dibuat mengenai catatan berbasis komputer? Tentu saja ada kekhawatiran etis yang penting dalam kaitannya dengan komposisi catatan dan akses yang sama. Juga, menghubungkan sistem pencatatan yang berbeda satu sama lain kadang-kadang menimbulkan kritik, khususnya dalam kasus-kasus yang mungkin melibatkan catatan pribadi / pasien. Sekali lagi, ada perlu untuk mengamankan standar dan kualitas dan langkah yang tepat, nasional dan internasional, yang akan diambil dalam mencari solusi.
Juga, kurangnya bimbingan dari pemerintah pusat, dalam banyak kasus menyebabkan mish-mash komputer berbasis sistem catatan pasien non-kompatibel. Keadaan seperti itu telah menyebabkan masalah timbul dalam pengolahan kelancaran pasien antara unit-unit pelayanan kesehatan, bahkan dalam otoritas kesehatan yang sama (atau setara). Terlepas dari banyak aspek positif devolusi / desentralisasi, ada, seperti yang ditunjukkan di atas-menyebutkan beberapa contoh, kebutuhan untuk koordinasi pusat.
Pengamatan ini juga mungkin memiliki beberapa bantalan internasional dengan volume tinggi orang bepergian melintasi asrama nasional dan kadang-kadang membutuhkan perawatan kesehatan darurat di luar negara masing-masing. Dalam kasus ini, transfer cepat dan efisien, elektronik, catatan medis mungkin penting untuk mencapai pengiriman perawatan akut berkualitas baik.Pergi ke:TelemedicineAkhirnya, telemedicine memberikan kategori dengan sendirinya. Telemedicine, berarti kesehatan yang disampaikan melalui sarana elektronik, telah di jalan selama lebih dari satu abad - jika perawatan yang disediakan oleh telegraf dan telepon dianggap. Namun, menjelang akhir abad lalu, ini muncul sebagai sistem pengiriman dengan potensi besar karena revolusi teknologi informasi, yang membuat dua arah, transmisi audio visual mungkin biaya yang wajar.
The Popper berikut kontrol antarmuka pengguna mungkin tidak dapat diakses. Tab untuk tombol berikutnya untuk kembali kontrol ke versi diakses.Hancurkan antarmuka pengguna control.
Pandangan yang diungkapkan oleh Hjelm, arahkan ke kesulitan (yang tidak dapat cukup disajikan di sini) telemedicine yang dihadapi, mengakibatkan banyak kekurangan. Ini memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum dapat secara efektif diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan kesehatan. Salah satu kesulitan penting adalah bahwa banyak aplikasi telemedicine belum dikembangkan, dievaluasi dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah sakit, sebelum penerapan sistem jarak yang lebih jauh.P
Kesimpulan
Seperti disebutkan, teknologi informasi dan e-health memiliki potensi besar. Penelitian dan pengembangan penelitian, bagaimanapun, diperlukan dalam menilai implikasi sempit dan lebih luas dari aplikasi TI. Ini tidak bisa dibiarkan penggemar IT saja, baik kepada para politisi baik-informasi yang kurang atau profesional kesehatan. Aplikasi harus, dalam pikiran saya, akan dibangun secara bertahap dengan dimulai dari proyek percontohan skala yang lebih kecil. Pada tahap selanjutnya dan setelah penilaian hati-hati, implementasi skala yang lebih besar mungkin tepat. Nasional dan internasional, ada kebutuhan untuk aksi bersama dalam mengembangkan standar (untuk mencapai kompatibilitas) dan kerangka etika.
Dari perspektif Rumah Sakit International Federation, kami telah mencatat, dengan kejutan dan kepuasan, bahwa website kita sendiri, http://www.hospitalmanagement.net, telah mencapai audiens yang lebih besar dari yang diharapkan. Dalam waktu kurang dari setahun setelah awal, sekitar 550, 000 hits per bulan (November 2001) dan beberapa 1000 rapat kerja sehari, telah direkam. Kami mengakui, oleh karena itu, website ini sebagai alat yang ampuh dalam mencapai anggota, calon anggota, industri dan masyarakat. Menjalankan website kami tergantung pada iklan. Mengingat bahwa banyak yang mengklaim ada pertumbuhan dalam kesehatan yang berhubungan dengan e-commerce serta peningkatan penghematan biaya dalam penggunaan fasilitas e-commerce, kami berharap dan percaya diri dalam pengembangan masa depan website kami.
- Detmer D. Transforming Health Care in the Internet Era. World Hospitals and Health Services. 2001;37:2. [PubMed]
- Hjelm M. Making Telemedicine an In-patient. Hospitals International. 2001;37:2.
20:17 |
Category: |
0
comments
Tinja tergantung dari sudut mana kita melihatnya, bisa merupakan berkah juga bisa malapetaka. Setiap hari seseorang membuang tinja seberat 125 – 250 gram. Jika sekarang ada 100 juta orang tinggal di wilayah perkotaan, maka kawasan perkotaan tersebut menghasilkan sekitar 25 ribu ton tinja.
Menurut data Bank Dunia, masyarakat Jakarta membuang tinja sekitar 714 ton setiap harinya dan buangan urine sekitar 7000 m3. Buangan tinja tersebut, ada yang mengendap di dalam tanah dan ada pula yang dibuang di sungai-sungai. Jika dikelola sebagai kompos dan pupuk cair maka tinja dan urine ini merupakan berkah karena merupakan potensi yang besar dan berkelanjutan. Tetapi jika tidak dikelola merupakan malapetaka yang siap menggerogoti perekonomian dan kesehatan masyarakat. Berikut ini adalah beberapa dampak dari 4 kandungan yang dimilikinya :
1.Mikroba
Sebagian di antaranya merupakan mikroba patogen seperti, bakteri Salmonela Typhi (penyebab demam tifus), bakteri Vibrio Cholerae (penyebab kolera, hepatitis A, dan polio). Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koil-tinja.
Tingkat penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi.
Tifus mencapai 800 kasus/100.000 penduduk, tertinggi di seluruh Asia. Diare mencapai 300 kasus/1000 penduduk. Polio masih dijumpai di Indonesia walau di negara lain sudah sangat jarang.
2.Materi Organik
Sebagian merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna. Dapat berbentuk karbohidrat, protein, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200 – 300 mg BOD5.
Sekitar 75% sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar berat oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air sungai Ciliwung memiliki BOD5 40mg/L, empat kali lipat dari batas maksimum sebesar 10 mg/L. Kandungan BOD yang tinggi mengakibatkan air mengeluarkan bau tak sedap dan berwarna hitam.
3.Telur Cacing
Orang yang cacingan, akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Banyak cacing yang bisa ditemukan di perut kita. Sebut saja, cacing cambuk, cacing gelang, dan cacing tambang. Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain.
Anak cacingan adalah kejadian yang biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk dan cacing gelang. Prevalensinya bisa mencapai 70% dari balita.
4.Nutrien/hara untuk pupuk
Umumnya merupakan senyawa nitrogen dan fosfor yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedang fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat sebesar 30 mg. Satu liter unine mengandung lebih dari 30 mg urea.
Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang. Akibatnya, warna air jadi hijau dan ganggang menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan air lainnya mati. Fenomena yang disebut Eutrofikasi ini mudah dijumpai di waduk, danau, atau balong-balong.
Sangat ideal jika penanganan tinja dan urine ini dilakukan secara terpadu, dimulai dari skala perumahan hingga skala kota kecil dan skala kota besar.
Bagaimana pendapat kalian teman2?
18:42 |
Category: |
4
comments
Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Hamba Allah, dosen dan peneliti FP dan PPS UNSRI, sup_effendi@yahoo.co.id HP +6282184824570 Komplek Bukit Sejahtera Blok DM 99 RT 56 Bukit Lama Palembang 30139 Indonesia Telp +62 711 441140 Palembang, 2007Video: http://www.youtube.com/watch?v=43t8bFztUuA
PENGANTAR
Panen hujan bukan hal baru. Pemanfaatan
air hujan untuk kehidupan manusia diyakini sama tuanya dengan
kedatangan manusia pertama dani bumi. Suatu referensi terbaik dan
terlengkap tentang proses terjadinya dan manfaat air hujan bagi
kehidupan manusia tertulis dalam firman Tuhan (Al-qur’an) sejak 1400
tahun yang lalu.
Penulis dilahirkan dan dididik dari
keluarga petani di salah satu desa kecamatan Seginim kabupaten Bengkulu
Selatan Bengkulu. Ayah penulis bernama H. A. Rahim dan ibu Hj. Rahina.
Keluarga seperti itu sangat memahami makna air sebagai rahmat Tuhan
Yang Maha Pemberi Rezeki. Bila tanpa air (sering diuji dengan kemarau
panjang) maka dengan sendirinya rezeki menjadi berkurang baik dalam
jumlah dan keberkatannya. Perkenalan dengan al-qur’an surat al-ambiya
ayat 30 yang berbunyi: ”Kami jadikan semua yang hidup dari air, mengapa
kamu tidak mau beriman”, menjadikan penulis semakin memahami ”harga”
air hujan – tidak ternilai.
Sejak masih menyewa dari bedeng ke bedeng
di dasa warsa 70-an hingga 90-an penulis mempunyai cita-cita untuk
memiliki sebidang tanah di manapun berada untuk dibangun sistem panen
hujan. Sistem panen hujan yang dimaksud adalah sistem yang dibangun
untuk menampung semua air hujan yang jatuh pada lahan pekarangan dan
rumah. Alhamdulillah pada tahun 1998 bulan Agustus penulis dipertemukan
dengan tetangga di luar tembok luar kompleks tempat penulis tinggal 5
tahun sebelumnya. Dia menawarkan lahan rawa persis di berbatasan tembok
kompleks Bukit Sejahtera.
Setelah dicapai saling pengertian dan
perjuangan panjang (karena uang terbatas) maka lahan rawa dengan luas
1.440 m2 itu resmi menjadi milik keluarga. Lahan ini mulai ditata.
Prinsip “tidak menimbun bila tidak menggali” mulai diterapkan. Rawa
yang semula ditanam padi itu pada bagian tertentu digali lalu tanahnya
ditimbunkan di bagian yang lainnya. Mimpi penulis ingin membangun rumah
panen hujan mulai timbul dan tumbuh dengan subur. Pembangunan rumah
tersebut memperoleh pinjaman lunak dari Bank Sumsel Syariah Palembang.
Langkah awal yang lakukan adalah menggali
kolam di bagian timur (disepakati sebagai bagian depan) dan di bagian
barat (disepakati sebagai bagian belakang). Di bagian timur penulis
rancang sebagai kolam
(a) semua air atap ditampung
(b) dari dak palsu disalurkan dengan dengan dak palsu pipa ke penyaringan
(c) air hujan ditampung ke kolam renang
(d) hujan yang jatuh di halaman ditampung
di kolam depan rumah penampungan air hujan dari seluruh lahan. Luas
kolam ini dirancang berukuran panjang 30 m dan lebar 12 m (25% dari luas
lahan). Di bagian belakang adalah kolam penampungan air (belakangan
dijadikan kolam renang) yang berasal dari sebagian besar atap rumah.
Kolam renang ini berdimensi panjang 7 m lebar 5 m (2,5% dari seluruh
luas lahan). Daerah yang ditimbun selanjutnya ditanami sejumlah jenis
tanaman – pisang, ubikayu, sukun, kelapa, mangga, durian, pepaya dan
sebagainya.
Sekeliling bangunan dibuat dak palsu
sebagai “talang”. Alhamdulillah ¾ atap rumah sudah diarahkan saluran
pengaliran air hujan menuju “cikal bakal” kolam renang. Sisa atap yang
sudah dibuat talang berupa dak palsu sudah dibuat pipa penyalurannya
tetapi masuk ke kolam di depan rumah. Setiap terjadi hujan lebat air
hujan yang jatuh di bagian atap sebelah belakang rumah mampu
menghasilkan air pengisi kolam renang puluhan meter kubik. Sedikitnya
sekitar 6 sampai 10 meter kubik air bersih tertampung dalam kolam ini
setiap kejadian hujan. Kolam yang bisa menyampung 40 m3 itu penuh dalam
beberapa kali hujan lebat. Jumlah itu menghemat rekening ledeng hingga
Rp 300 ribu per bulan bahkan lebih besar dari jumlah itu.
TANGKI AIR BERMETER, SEBAGAI BAGIAN PANEN HUJAN
Ada yang unik dengan pembangunan sistem
panen hujan pada rumah penulis di Komplek Bukit Sejahtera blok DM 99 RT
56 Bukit Lama Palembang 30139 Indonesia. Pertama, tangki tersebut yang
dirancang bersama antara penulis dan James Miller (James adalah yunior
penulis dari University of Cranfield Inggrisn – diundang sebagai tenaga
volunter dari Silsoe Aid For Appropriate Dvelopment – SAFAD). Keunikan
Pertama adalah meter penunjuk ketinggian
muka air dalam tangki. Kedua, bentuk tangki yang bulat dan panjang –
mirip peluncur satelit). James menyarankan banyak hal tentang desain
tangki. Penulis juga melakukan yang sama. Namun, tukang kepercayaan
penulis sudah sangat pengalaman dan bila mereka (dua orang) tidak setuju
maka akan dibantahnya dan dicarikan alternatif yang dianggap paling
baik. Pembuatan meteran pembaca tinggi muka air berbeda dengan saran
semula yakni disatukan dengan pipa penyaluran air. Dengan menggunakan
elbow dan selang trasparan serta paku clamp dibuatlah meteran tersebut.
Alhamdulillah fungsinya baik dan enak dilihat. Bentuk tangki air hujan
yang bulat dan panjang menjadi daya tarik tersendiri.
Yang Menarik bahwa meskipun diameternya
hanya 2 m dan tingginya 3 m tetapi isinya bukan 6 m3 melainkan sekitar
10 m3. Ini menambah kekaguman penulis kepada sang pencipta jagad raya
yang semuanya berbentuk bola dengan demikian luas permukaannya luas dan
isinya banyak. Meski bumi dianggap planet yang berukuran “kecil”
dibanding dengan kebanyakan planet lain dalam tata surya matahari kita
namun karena bentuknya seperti bola maka diyakini bahwa dalam waktu lama
bumi tak akan penuh dengan manusia. Bumi bisa mendukung kehidupan
manusia sampai i jumlah sebanyak-banyaknya. Insya-Allah. Sejak
terbangunnya tangkii bermeter ini penulis semakin ingin mengajak semua
pihak untuk menerapkan sistem panen hujan tersebut di manapun. Tidak
urung kepala Dinas Pendidikan kota Palembang pernah menyatakan kepada
penulis tentang niat beliau untuk membangun sistem panen hujan pada
sekolah-sekolah yang ada di kota Palembang. Penulis waktu itu menjawab:
“siap pak, kami akan bantu”.
KEUNTUNGAN MENERAPKAN SISTEM PANEN HUJAN
Semua kita termasuk penulis masih senang
dengan fadhilah sesuatu amalan. Bila seseorang beriman maka selanjutnya
dia beramal shaleh. Kalau tidak maka imannya akan rusak. Karena orang
beriman mirip dengan sebatang pohon yang rindang dan kuat akarnya. Pohon
seperti itu harusnya menghasilkan buah yang disenangi lingkungannya –
manusia, binatang dan sebagainya. Buah ini sama dengan amal shaleh. Amal
shaleh yang benar harus dilengkapi dengan upaya saling berwasiat
tentang kebaikan dan saling berwasiat tentang kesabaran. Jadi tidak
lengkap bila hanya dengan memenuhi kebutuhan sendiri- tidak mengajak
orang lain. Panen hujan bukanlah hal sulit, yang penting ada kemauan.
Orang yang memahami dengan baik fadhilah sesuatu perbuatan tentu tidak
dengan serta merta pasti akan mengamalkannya (menerapkan teori yang ada
padanya). Upaya sosialisasi atau pemberian pelatihan tentang sistem
panen hujan di rumah-rumah merupakan awal yang baik. Bila telah tumbuh
kesadaran bahwa panen hujan merupakan pekerjaan mulia – baik untuk diri
sendir maupun lingkungan maka diyakini orang akan mengadopsinya. Maka
bila semua penduduk sudah banyak menerapkan sistem panen hujan tidak
saja ia akan memperoleh air hujan yang berkualitas tetapi dapat terjadi
pengurangan banjir di sekeliling tempat tinggalnya.
Bagaimana sistem panen hujan bisa
mengurangi banjir? Banjir yang dapat dikurangi dengan sistem panen hujan
tentunya banjir yang hanya disebabkan oleh air hujan. Banjir karena
limpahan air sungai akibat pasang atau banjir kiriman tidak dapat
diatasi dengan panen hujan. Ambil contoh pada areal lahan seluas 1500
m2. Pada areal seluas itu bila terjadi hujan selama 1 jam dengan
intensitas 50 mm/jam. Bila semua areal lahan itu kebanyakan merupakan
areal kedap air- atap, pelataran dari semen, jalan aspal maka nilai
karakteristik tangkapan (catchment characteristic, cc = 0,90). Dengan
demikian jumlah air yang terakumulasi dari areal lahan tersebut = 1500 x
0,90 x 50 x 0,001 m = 67,5 m3. Bila ada sistem panen hu jan dalam
bentuk kolam renang, tangki dan kolam ikan maka air dalam jumlah
tersebut tidak akan membanjiri areal lahan. Bila dari atap seluas 250 m2
semuanya masuk ke tangki dan kolam renang maka berarti air hujan yang
terpanen adalah sebanyak 1/6 x 67,5 m3 = 11,25 m3. Bila hujan dua kali
dari intensitas semula maka air hujan dengan kualitas baik yang bisa
disimpan adalah 22,5 m3. Jumlah ini sama dengan 6 tangki air PDAM. Bila 1
tangki harganya Rp 100 ribu maka keuntungan dari menampung air sama
dengan Rp 600 ribu. Angka ini hanya menggambarkan kesyukuran kita
pada-Nya.
Hujan yang dipanen secara baik dan
berkala di rumah sendiri, perkantoran, pasar, mesjid dan tempat-tempat
lainnya akan banyak selali memberi keuntungan. Keuntungan seperti ini
tentu saja berdimensi waktu yang lama namun memberikan banyak manfaat –
ekonomis, sosiologis, teologis dan ekologis. Secara ekonomis sudah tidak
bisa diragukan lagi. Air hujan memberikan keuntungan yang berlapis dan
efeknya multi. Dengan banyaknya air – ikan dan tanaman produksinya
berlimpah. Air hujan yang ditampung di kolam bisa disaring dengan
ijuk-pasir-arang-pasir-koral, hasilnya dimanfaatkan untuk mandi, cuci,
siram tanaman dan cuci kendaraan serta halaman rumah.
Tampungan air berbentuk kolam berfungsi
sebagai objek wisata yang alami. Pohon di sekitar kolam yang rindang
mengundang satwa dengan bunyi yang bermacammacam. Ada kolam berarti
memungkinkan dibangunnya air mancur dan/atau air terjun.
Kondisi seperti ini menjadikan penghuni
rumah nyaman- serasa seperti tinggal di dekat bukit/ngarai alami. Air
berisik dan terkadang ikan melompat-lompat seperti ingin bermain di
sekitar jatuhnya air.
Meminta orang sekitar untuk menangkap
ikan dengan cara tradisional – menggunakan waring besar seperti pukat
harimau – memberikan pelajaran berharga kepada penulis dan keluarga.
Tiga empat orang kepercayaan sejak lama menangkapkan ikan pada kolam di
halaman rumah yang berdimensi cukup luas dan dalam itu. Tanpa ada
perjanjian berapa ongkos untuk “bekarang” ikan itu mereka secara
sungguh-sungguh dan sabar menangkap ikan- tidak peduli dingin atau panas
matahari. Memang banyak ikan yang berhasil ditangkap. Sayang mereka
melewatkan sholat zuhur dan bahkan ashar. Pada saat salah seorang
terkena sengatan listrik karena saat terakhir mereka merasa lelah
penulis menyarankan memakai sistem “setrum”.
Menangkap ikan dengan menggunakan setrum
listrik sesungguhnya tidak dianjurkan dari aspek apapun – berbahaya bagi
penangkap ikan maupun bagi ikan itu sendiri. Bagi penangkap bahaya
setrum listrik dapat terjadi melalui sebab yang beragam – ada kabel
telanjang dan sebagainya. Waktu itu pernah satu orang kena setrum dan
hampir mati. Pada saat itulah penulis “menggugah” hatinya dengan
memberikan nasehat berupa jangan tinggalkan sholat, karena Allah masih
memberi kesempatan anda hidup. Tanpa jawaban yang pasti kecuali dia
ingin bersedekah tanda bersyukur bahwa dia masih hidup.
Pengalaman lainnya adalah bahwa ada jenis
ikan yang tidak tahan dengan himpitan derita sewaktu di-“rumah”kan
sementara pada bak air berukuran 2 m x 1 m x 1 m. Banyak ikan kecil dan
jenis tertentu yang mati. Ikan yang disetrum juga mati, tetapi ada jenis
tertentu yang tidak mati. Terangkatnya ikan-ikan dan udang kecil tanpa
diambil “pemilik” kolam menjadikan penulis sempat merenung sebagai
“pelajaran” dari Tuhan. Permisalan dari kejadian ini adalah bahwa
pemimpin umat semestinya “bijak” karena sepak terjang mereka banyak
membuat “sengsara” masyarakat kecil. Sangat sering terjadi di sekitar
kita bahwa para pemimpin sepertinya “akor-akor” tetapi pengikut mereka
saling membunuh.
Gambar
4. (a). kolam penampungan air hujan yang menjadi kolam ikan ; (b) Ikan
belida seberat 1 kg; (c) ikan patin 3 kg dan ikan seluang berukuran
jumbo; (d) udang gala
Pelajaran lainnya yang dapat dipetik dari
kolam adalah bahwa limbah domestik dari dapur ternyata tidak
“mencemari” kolam yang jumlah airnya hampir 800 m3 itu. Pelajaran ini
mungkin merupakan “amsalu” dari ayat al-qur’an yang menyatakan bahwa
perbuatan dosa dapat “dilebur” oleh adanya “danau” kebaikan. Bahkan
kedatangan “limbah” yang kotor dan jorok itu (dua hari sekali) disambut
oleh udang berbagai ukuran dan jenis, siput air, serta ikan berbagai
jenis dan ukuran. Gudang tempat air dan limbah itu ternyata sejak lama
telah Allah “sulap” menjadi rumah udang gala, ikan, siput dan
sebagainya. Tidak kurang ribuan kilogram biomassa yang lezat dan
menyehatkan itu telah membuktikan firman Tuhan
“kami_jadikan_semua_yang_hidup_dari_air” itu.
“Betapa mulianya Engkau wahai Yang Maha
Mulia”, penulis sering bergumam. Bayangkan ikan, udang dan siput yang
sering diberi hidangan -yang busuk-busuk, basi dan tidak pernah akan
dikonsumsi kembali oleh “manusia” yang mengklaim dirinya mulia itu –
tumbuh dan berkembang biak dengan aneka warna dan ukuran. Ikan patin ada
yang berukuran 3 kg, gurami sekitar 2 kg, ikan seluang yang lebih besar
dari saudaranya di sungai-sungai, udang gala dan sebagainya. Tetangga
dan para penangkap ikan bergembira dengan kehadiran ikan dan udang itu
di rumah mereka. Ikan seluang menurut salah seorang tetangga baru satu
kali ini berukuran “jumbo”.
“Subhanallah”. Melalui kebaikan Engkau ya
Allah, biomassa yang tadinya busuk itu kami makan dengan lezatnya. Ini
sama dengan pepatah yang mengatakan “keburukan dibalas dengan kebaikan”.
Lezatnya udang dari kolam “serba guna” di halaman rumah penulis itu
sempat dimakan dengan lahapnya oleh James Miller, tamu kami yang
mengundang barokah Allah yang banyak.
BAGAIMANA KUALITAS AIR HUJAN DAN KOLAM?
Penulis telah melakukan analisis fisik,
kimia dan biologis air hujan, air kolam dan air kolam yang disaring
menggunakan saringan : ijuk_pasir_arang_pasir_koral_pasir_dan_batubata.
Secara fisik, kimia dan biologis semua air hujan memenuhi syarat
kesehatan sebagai minum, sedangjkan air kolam yang dijadikan kolam ikan
tidak memenuhi persyaratan kesehatan untuk air minum. Analisis
fisik-kimia-dan-biologis air dilakukan pada Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan Palembang melalui kebaikan mitra penulis meliputi Birmansyah
dan Heri (S2 Pengelolaan Lingkungan PPS Unsri) serta Amar Muntaha
(Kandidat S3 Ilmu Lingkungan PPS Unsri).
PENUTUP
Membangun rumah sistem panen merupakan
bentuk kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Bersyukur. Dari konteks apa hal
itu dikatakan bersyukur. Secara hakikat, semua yang di atas permukaan
langit dan bumi serta apa-apa yang ada didalamnya bertasbih kepada Tuhan
mereka. Tasbih mereka itu paling tidak adalah “subhanallah” (maha suci
allah – tanpa kekurangan satu apapun jua). Hujan sebagai salah satu
makhluk ciptaan Tuhan tentu bertasbih. Nah bila hujan “bertamu” ke
halaman, ke atap atau ke atas lahan pertanian kita maka sebaik-baik
“tuan rumah” adalah mereka yang melayani “tamunya” dengan baik. Allah
sangat senang yang memuliakan tamu karena hal itu adalah bagian dari
tanda syukur kepada-Nya.
Penulis berkeyakinan bahwa dengan
kesyukuran di atas maka Allah telah menganugerahkan banyak sekali rezeki
– melalui upaya panen hujan – pohon buah tumbuh subur, banyak burung
yang datang dengan suara yang merdu, ikan dan udang beraneka-ragam,
ditambah banyak tamu yang berkunjung dan sebagainya. Pemilik rumah dan
rumah itu sendiri sering dipotret oleh wartawan dan gambarnya dimuat di
harian, majalah, televisi dan sebagainya. “Maka nikmat mana lagi yang
masih kamu dustakan?”. QS surat ar-rohman. Mari kita tunaikan tugas kita
dengan baik – sebagai khalifah, hamba Allah dan da’i ilallah.
Bila anda punya ilmu pengetahuan dan
teknologi tentang apa saja maka yang penting adalah bagaimana ilmu yang
diperoleh itu disyukuri dengan jalan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Demikian juga dengan sistem panen hujan ini setelah anda
paham maka penulis ingin mengajak untuk menerapkannya. Mulailah dari
yang kecil, mulailah sekarang dan anjurkanlah kepada orang lain. Di sini
akan berlaku ilmu yang bermanfaat dan amal jariah. Wassalamu alaikum,
walhamdulillahirabbil ‘alamin.
Penulis,
H. Supli Effendi Rahim; Desember 2007; zulhijjah 1428 H Dedicated sincerely to my lates mother and father in_law: Hj Umi Kalsum, H. Damiri Rais, grand fathers Merinsan & Hamzah, grand mother Muntianan & Nurmima, Father H. Rahim, mother Hj. Rahina, sister Asmiti: last not least my wife Dr. Hj. Nurhayati & all children; my adopted father & mother H. Rohimi & family; bothers and sisters; all of my teachers in Palembang, Bengkulu and Bedford England.
H. Supli Effendi Rahim; Desember 2007; zulhijjah 1428 H Dedicated sincerely to my lates mother and father in_law: Hj Umi Kalsum, H. Damiri Rais, grand fathers Merinsan & Hamzah, grand mother Muntianan & Nurmima, Father H. Rahim, mother Hj. Rahina, sister Asmiti: last not least my wife Dr. Hj. Nurhayati & all children; my adopted father & mother H. Rohimi & family; bothers and sisters; all of my teachers in Palembang, Bengkulu and Bedford England.
RUMAH PANEN HUJAN ATAU RUMAH LESTARI
Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Sumber: http://suplirahim.multiply.com/
Sejak pendidikan di Inggris pada era
1980-1990 saya banyak merenung dan merenung. Salah satu renungan saya
kala itu adalah bahwa Inggris mempunyai curah hujan yang relatif rendah
yakni sekitar 700 mm per tahun. Jumlah ini hanya sekitar 25% dari apa
yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Di negara kita curah
hujan tahunan berkisar antara 1500 mm di bagian timur dan dapat mencapai
4500 mm di bagian barat Indonesia.
Dengan curah hujan yang jauh lebih rendah
dibandingkan curah hujan negara kita ternyata Inggris jarang mengalami
kekurangan air bersih (air ledeng). Selidik punya selidik ternyata
mereka sudah mengerti dengan pesan dari langit – Tuhan. Meskipun mereka
juga dikenal dengan negara “godless country” tetapi dalam konteks ini
mereka memahami pesan Tuhan mereka – bersyukur dengan pemberian Tuhan.
Tuhan memberi mereka curah hujan yang mencukupi. Mengapa bisa mencukupi?
Ternyata mereka memanen hujan antara lain
dalam bentuk “runoff harvesting” (panen air limpasan). Di mana-mana
dibangun danau buatan. Dengan danau yang berukuran raksasa yang menyebar
di seluruh negeri maka kebutuhan air untuk irigasi dan untuk kebutuhan
lainnya menjadi tercukupi. Air bersih yang mereka distribusikan kepada
pelanggan juga didaur ulang sekian kali.
Kondisi kontras ternyata terjadi di tanah
air kita. Kalau musim penghujan air hujan membentuk air bah (banjir).
Sebaliknya di musim kemarau ketiadaan air untuk mandi, cuci dan kakus
(MCK) merupakan menjadi hal biasa. Dengan kondisi begini berarti tanaman
dan hewan ternak tentu jauh dari kecukupan air. Banyak ternak, kolam
ikan dan tanaman menjadi kekurangan air. Ironis bukan?
Beranjak dari kondisi itu saya berfikir
dan bekerja keras. Yang saya lakukan adalah membangun opini di
masyarakat tentang bagaimana mengubah fenomena banjir dan kekeringan ini
tidak lagi menjadi fenomena derita. Walaupun tidak bisa meniadakan
banjir dan kekeringan, tetapi saya ingin sekali banyak pihak menjadi
sadar bahwa air yang dikirim ke bumi dari langit bukan laknat tetapi
merupakan rahmat. Sebaliknya kekeringan di musim kemarau merupakan era
di mana radiasi matahari merupakan sumber energi yang sangat baik untuk
berlangsungnya fotosintesis. Dari proses ini dihasilkan banyak senayawa
organik seperti karbohidrat, lemak dan protein. Yang dibutuhkan adalah
khlorofil. Khlorofil terbentuk bila cukup air. Karena itu bila air
ditampung selama musim hujan, maka akan banyak manfaatnya di musim
kemarau.
Mencoba agar fenomera tersebut menjadi
kenyataan saya diberi kesempatan oleh Allah, Tuhan yang maha kuasa untuk
memodifikasi rumah sebagai ajang “kemarahan” saya dengan sulitnya
meminta dukungan dari banyak pihak untuk membangun rumah panen hujan.
Terus terang saya mempunyai uang terbatas yang tidak terbatas pada diri
saya dan keluarga adalah semangat dan kasih sayang sesama. Pada tahun
1998. Saya menemukan lahan rawa di pinggir kompleks perumahan Bukit
Sejahtera Palembang, tepatnya di sebelah rumah nomor DN 22, DN 23 dan DM
4. Lahan ini memanjang berukuran 59 m dan lebar 24 m. Luas lahan ini
sekitar 1440 m2. Lahan ini memanjang dari timur ke barat.
Bagi saya lahan ini sangat tepat karena
lahan ini merupakan tempat air (tangkapan) sewaktu musim penghujan.
Untuk itu saya harus menggunakan prinsip “menggali bila ingin menimbun”.
Alhamdulilah setelah lahan saya tata di mana untuk rumah di mana untuk
kolam, maka di sepakati bahwa rencana bangunan rumah saya letakkan di
bagian barat dan di bagian timur kolam ikan. Rencana rumah nantinya di
bagian belakang akan dibangun kolam renang yang saya rencanakan berguna
multi guna yakni sebagai sumber air untuk cuci pakaian, untuk
penampungan air hujan dan kolam untuk mandi.
Kolam ikan di bagian timur juga saya akan
gunakan dengan multi-guna yakni sebagai tempat penampungan ir hujan
dari seluruh areal, tempat penampungan limbah domestik dan tempat
membesarkan berbagai jenis ikan serta tempat rekreasi. Belakangan air
kolam itu menjadi sumber air yang baik untuk cuci kendaraan dan sumber
irigasi untuk tanaman.
Setelah enam tahunan berksperimen saya
mulai “membangun” rumah panen hujan yang saya telah lama saya
rencanakan. Rumah itu atapnya akan saya lengkapi dengan dak-dak palsu
sebagai talang untuk penampungan air hujan. Nah tahun 2006 semua selesai
dan air hujan ternyata dengan curah hujan gerimis sampai lebat akan
terkumpul di kolam renang belakang rumah. Semua bisa mandi, tetapi ada
sedikit yang tidak baik yakni rekening air ledeng saya tinggal 30 a/d 40
persen dibandingkan bila saya tidak mengunakan rumah panen hujan ini.
Mudah2an tidak menjadikan teman2 di PDAM kecewa. Tetapi dalam fikiran
saya bila ini ditiru jutaan rumah di seluruh tanah air dan bahkan dunia
maka fenomena banjir dan kekeringan akan menjadi berkurang. Ok pembaca
nanti saya akan cerita lebih lengkap. Wass.
videonya boleh ditengok di sini: http://www.youtube.com/watch?v=43t8bFztUuARumah Panen Hujan
Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Sumber: http://suplirahim.blogspot.com/
Suatu hari di akhir November 2009 saya
mengundang mahasiswa S3 PPS Unsri untuk datang ke rumah kami di Poligon
blok DM 99 Palembang. Tujuannya tidak lain adalah silaturahim sambil
melakukan kuliah lapangan. Sejumlah 11 mahasiswa hadir kecuali satu
orang pulang kampung ke padang. hadir juga dalam kongko-kongko di teras
rumah istri saya itu sejumlah mahasiswa ekstension FT Unsri yang
dibimbing oleh kandidat doktor Reni Yunan.
Pertemuan yang sederhana penuh canda itu dimulai dengan sambutan saya tuan rumah tentang rumah panen hujan.
Cerita dimulai dengan ungkapan bahwa saya
sudah lama sekali memahami fenomena pengelolaan rawa yang ramah
lingkungan dikaitkan dengan rumah panen hujan. Ada sejumlah latar
belakang mengapa saya tertarik dengan pembangunan rumah panen hujan
tersebut.
Pertama, negara kita – Indonesia – selalu
mengalami peristiwa banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim
kemarau. Berdasarkan hasil kajian atau analisis terhadap neraca air di
kawasan bukit besar dan sekitarnya maka sangat jelas bahwa kawasan di
mana rumah di bangun itu mengalami surplus positif pada bulan-bulan
Oktober sampai April, sebaliknya surplus negarif pada bulan-bulan Mei
sampai September.
Kedua, saya ingin sekali membangun rumah
sebagai contoh kepada masyarakat luas yang memanen hujan dengan berbagai
cara, selain itu juga dapat mengolah air limbah domestik. Sudah
merupakan fenomena yang sangat menyedihkan pada waktu hujan lebat air
mengalir bebas dan terkadang sempat membanjiri daerah sekitar, sedangkan
pada musim kemarau kekeringan. Bila demikian maka ada kesan bahwa air
menjadi tidak bermanfaat tetapi sering juga menjadi sumber mudarat.
Ketiga, Kalau masa sekarang atau masa
yang akan datang konsep rumah panen hujan ini sudah menjadi budaya
sebagian besar masyarakat di suatu DAS maka diyakini bahwa tidak saja
bahaya banjir bisa dielakkan tetapi juga halaman rumah adalah sumber
pendapatan keluarga sekaligus terkendalinya pencemaran lingkungan.
Atas dasar tiga hal itu di samping pertimbangan lain, saya dan keluarga bersepakat untuk membangun rumah rumah panen tersebut.
Pertama, dalam pembangunan itu dilakukan
penataan ruang (spatial arrangement). Dari luas tanah yang dulunya
adalah rawa dengan kedalaman genangan tertinggi adalah 30 cm direkam
bahwa lahan itu pada awalnya adalah tempat peresapan air sebanyak 450
m3. Dari perhitungan neraca air yang merupakan penghitungan berapa air
yang masuk, berapa yang keluar, dan berapa yang dapat ditampung dengan
berabagai cara (tangki, sumur, kolam renang dan kolam ikan) diperoleh
angka untuk pembangunan kolam ikan. Kolam ikan yang direncanakan
mempunyai fungsi yang banyak antara lain penampungan semua air yang
masuk kawasan itu (air hujan dan air limbah domestik). Disepakati bahwa
kolam itu berdimensi 30 m x 10 m x 4 m atau mempunyai kapasitas tampung
1200 m3. Luas kolam ini lebih kurang 25% dari luas seluruh areal. Tanah
dari hasil galian kolam itu selanjutnya digunakan untuk menimbun areal
75% dengan ketinggian sekitar 100 cm dibandingkan dengan ketinggian
permukaan tanah alami.
(akan dilanjutkan)
07:33 |
Category: |
9
comments




